Dampak Di Tutupnya Maskapai Adam Air


Telah berjalan sekitar 2 minggu sejak Maskapai Adam Air di “grounding” oleh peraturan keselamatan di Indonesia:-). hal itu efek berantai dari segala macam hal yang menimpa penerbangan Indonesia secara umum  dan  secara khusus pada Adam Air itu sendiri. Tentu kita semua tidak lupa dengan berbagai kecelakaan pesawat yang  terjadi di indonesia, dari yang paling ringan “sekedar hanya” gagal terbang hingga pesawat yang hancur menghantam bumi. seperti yang menimpa Adam Air itu sendiri, pada kejadian kecelakaan di selat Majene yang saat itu pemberitaannya sangat heboh…setiap hari dipantau pencariaan korban, yang katanya memakan puluhan milyar bahkan mendatangkan 2 kapal asing untuk mencari bangkai kapal Adam Air, selain itu juga berbagai berita yang di posting oleh para “korban manajemen maskapai” di internet yang menerangkan buruknya pelayanan maskapai tersebut pada penumpangnya.

Sekarang pemerintah semakin tegas dalam menjalankan proses pengawasan terhadap pesawat yang akan terbang, pesawat yang tidak lulus pemeriksaan sebelum terbang bahkan kerusakan sekecil apapun langsung mendapat surat pelarangan terbang. Contoh terbaru -14/04/2008, berita dari administrasi kontrol polonia medan yang terpaksa mengeluarkan delay hingga pembatalan terbang pesawat2 yang mengalami kerusakan ketika dilakukan pengecekan sebelum terbang, juga berita dari jakarta; Sembilan pesawat dari 5 maskapai dilarang terbang (di-grounded). Larangan itu dikeluarkan setelah inspeksi mendadak (sidak) Dirjen Perhubungan Udara Budhi M Suyitno, ke Bandara Soekarno Hatta, Tangerang,Senin (14/4). Kesembilan pesawat milik Wings Air, Lion Air, Batavia Air, Air Asia dan Sriwijaya Air. Kerusakan terparah pada pesawat milik Batavia Air nomor register PK-YVE jenis Airbus A 320 karena flight control rusak sehingga return to base (RTB) atau kembali lagi ke Bandara Soekarno-Hatta setelah terbang 30 menit. Kerusakan Air Asia register PK-AWU jenis Boeing 737-300 pada lampu strobe kanan, disusul dua pesawat Lion Air dengan register PK-LIH Boeing 737-400 yang kehilangan extinguisher (petunjuk) dan register PK-LIQ kabel roda pesawat. Padahal kabel ini untuk mengetahui posisi roda pada saat landing dan take off sehingga bisa berakibat fatal. Sriwijaya Air Boeing 737-400 nomor badan PK-CJE yang baru mendarat dari Gorontalo diketahui satu dari dua radio komunikasinya rusak…dan surat pengeluaran pelarangan terbang berlaku hingga kerusakan yang ada pada pesawat tersebut diperbaiki.

Kita sebagai calon pengguna moda angkutan udara tentunya senang, dengan sikap tegas pemerintah…namun entah ini disebut efek negatif atau apalah (saya juga gak tau mendefinisikannya)…sebagai imbasnya yang saya rasakan langsung…terjadi ketidakpastian dalam menunggu pesawat…karena bisa saja setelah masuk ruang tunggu…malah gak jadi berangkat karena pesawatnya digrounding dan juga menyangkut harga tiket pesawat yang mengalami kenaikan yang cukup signifikan walaupun masih belum permanen. misalnya dari samarinda ke jakarta yang dulunya bisa diperoleh antara 600rb – 750rb sekarang walaupaun bukan musim libur telah mencapai 1.5jt – 1.7jt…juga kemakassar yang awalnya biasa didapatkan dengan rentang 350rb – 450rb sekarang mencapai < 500rb. seperti yang saya katakan awal disatu sisi keselamatan sangat dibutuhkan (walaupun sebagai umat islam tetap tidak boleh lupa dengan takdir Allah) namun dengan income rata2 penduduk indonesia (terutama saya;-) ) sangat dibutuhkan juga harga tiket pesawat yang terjangkau…semoga pemerintah bisa cepat merspon perubahan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: